Islam Di Indonesia

1. Wali Songo di Indonesia
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
Sunan Gresik atau Sunan Thandes adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah keturunan ke-22 dari Rasulullah SAW. Nasab Maulana Malik Ibrahim tercatat dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang merupakan kumpulan catatan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini.
Lahir di Samarkand, Asia Tengah, Sunan Gresik mempunyai tiga orang isteri. Sunan Gresik banyak dianggap sebagai wali yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Selain dakwah, beliau mengajarkan cara baru bercocok tanam untuk mengambil hati masyarakat kebanyakan, yakni mereka yang tersisihkan pada akhir kekuasaan Majapahit.
Krisis ekonomi dan perang saudara saat itu banyak membuat masyarakat Jawa menderita. Sunan Gresik membangun pondokan sebagai tempat menimba ilmu agama di Leran, Gresik untuk memenangkan hati masyarakat. Sebagai pelengkap, ia membangun masjid untuk tempat beribadah. Masjid ini adalah masjid pertama di Pulau Jawa dan masih berdiri hingga sekarang. Nama masjid tersebut adalah Masjid Jami’ Gresik. Sunan Gresik wafat di tahun 1419 dan dimakamkan di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
Riwayat mengatakan bahwa Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar. Ibunya adalah seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir dari Dinasti Ming.
Meski bukan yang pertama menyebarkan Islam di Tanah Air, Sunan Ampel dianggap sesepuh oleh para wali lainnya. Ia memiliki pesantren di Ampel Denta, Surabaya yang menjadi pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa.
Setelah wafat, Sunan Ampel dimakamkan di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim
Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel. Semasa hidupnya, Sunan Bonang kerap berdakwah melalui kesenian agar bisa menarik masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam. Pernah mendengar lagu Wijil atau Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick? Kedua lagu tersebut adalah hasil karya Sunan Bonang.
Untuk menambah unsur Islami dalam lagu-lagu yang digubahnya, Sunan Bonang memasukkan rebab dan bonang sebagai pelengkap dari gemelan Jawa. Oleh sebab itulah ia mendapatkan julukan Sunan Bonang.
Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525 dan dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.
4. Sunan Drajat atau Radem Qasim
Selain Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Raden Qasim yang juga putra dari Sunan Ampel dikenang oleh masyarakat di seluruh Tanah Air sebagai Sunan Drajat. Dalam misinya untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, ia menggunakan kegiatan sosial sebagai ujung tombaknya.
Ia mempelopori penyantunan anak-anak yatim dan orang-orang sakit. Selain itu Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat umum. Ia sangat mengedepankan sikap dermawan, kerja keras dan meningkatkan kemakmuran rakyat sebagai pengamalan agama Islam.
Wafat di tahun 1522, Sunan Drajat memiliki banyak peninggalan berarti. Di antaranya adalah Pesantren Sunan Drajat di Desa Drajat, Paciran, Lamongan. Ia juga meninggalkan Gamelan Singomengkok, alat musik yang sering ia mainkan. Kini gamelan tersebut disimpan di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan.
5. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq
Berbeda dibandingkan dengan Wali Songo sebelumnya yang pada umumnya langsung menyentuh masyarakat umum untuk menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus memiliki andil yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak. Perannya adalah sebagai panglima perang, penasihat untuk Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim.
Target dakwah Sunan Kudus kebanyakan berada di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Peninggalan Sunan Kudus yang terkenal hingga saat ini adalah Masjid Menara Kudus. Masjid ini memiliki keunikan karena arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus banyak dipercaya oleh masyarakat wafat pada tahun 1550.
6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
Sunan Giri adalah keturunan langsung dari Maulana Ishaq. Selama hidupnya, ia menimba ilmu Islam dari Sunan Ampel dan bersahabat dengan Sunan Bonang. Peran besarnya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa adalah mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik.
Pemerintahan inilah yang selanjutnya memiliki peran sebagai pusat dakwah Islam untuk wilayah Jawa dan Indonesia Timur hingga ke Maluku. Anaknya, Sunan Giri Prapen berhasil menyebarkan Islam hingga ke Lombok dan Bima.
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
Raden Said atau Sunan Kalijaga adalah anak dari adipati Tuban bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Agama Islam ia pelajari dari Sunan Bonang. Dari Sunan Bonanglah ia belajar menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam.
Kesenian yang kerap ia gunakan untuk berdakwah adalah wayang kulit dan tembang suluk. Banyak masyarakat yang memercayai bahwa tembak suluk Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul adalah hasil karya Sunan Kalijaga.
8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
Raden Umar Said atau Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga. Namanya, Muria, diperkirakan oleh masyarakat sekitar Kota Kudus berasal dari nama gunung, yakni Gunung Muria. Gunung Muria itulah tempat di mana kini Sunan Muria dimakamkan.
Gaya dakwah Sunan Muria pada umumnya mengambil metode yang digunakan ayahnya, Sunan Kalijaga, yakni menggunakan kesenian. Namun, Sunan Muria lebih senang tinggal jauh dari hiruk pikuk kota dan tinggal di daerah terpencil untuk menyebarkan agama. Ia juga turut mengajarkan cara bercocok tanam, jual beli dan melaut kepada rakyat jelata.
9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Syarif Hidayatullah adalah anak dari Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Ayahnya lain lagi, nama ayah Sunan Gunung Jati adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, tokoh Mesir keturunan Bani Hasym dari Palestina. Sunan Gunung Jati belajar agama dari berbagai negara. Sejak usia 14 tahun, ia sudah belajar agama dari para ulama di Mesir.
Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya seorang wali yang menjadi kepala pemerintahan. Ia mendirikan Kasultanan Cirebon atau dikenal dengan Kasultanan Pakungwati dengan restu dari para ulama lainnya untuk menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak. Ia memanfaatkan posisinya untuk menyebarkan agama Islam dari pesisir Cirebon hingga ke pedalaman Pasundan.
Di usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mengundurkan diri dari pemerintahan untuk fokus berdakwah. Tampuk kekuasaan diserahkan pada Pangeran Pasarean. Ia meninggal di tahun 1568 pada usia 120 tahun dan dimakamkan di Gunung Sembung, Gunung Jati.
sumber : http://sejarahlengkap.com/tokoh/sejarah-wali-songo
2. Masuknya Islam ke Balikpapan
-----------
3. Nilai-Nilai dari Ulama Terdahulu
    Para ulama memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota. Di masa revolusi, Belanda mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahanya. KH Hasyim Asy’ari menentang, beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram. Setiap bujukan agar Kiai Hasyim tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Gerakan non kooperatif ini pun dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
     Mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat pahlawan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabilillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama. Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Dipenogoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teungku Cik Ditiro, KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Buntet, KH Zainal Mustafa, dll.
     menyerupakan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI, dan pada 1954 sebuah Musyawarag Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharuri bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat.
     berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang melalui organisasi dan pendidikan.
sumber: http://syaamilquran.com/peran-ulama-dalam-kemerdekaan-rakyat-indonesia.html
5. Kritik untuk Ulama saat Ini
     Kebanyakan para ulama saat ini hanya cenderung pada sistem politik. Mereka hanya memikirkan bagaimana agar golongannya mampu memimpin negara dan menguasai sistem politik di Indonesia. Padahal masih banyak sekali sektor-sektor yang masih bisa diperbaiki. Yakni dari sektor pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tak jarang beberapa ulama juga kurang memiliki jiwa nasionalisme seperti para ulama terdahulu, para ulama yang senantiasa hadir untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ulama cenderung ingin mengambil alih negara dan menggantikan semua sistem yang sudah diperjuangkan para ulama terdahulu. Namun, Alhamdulillah masih ada ulama yang masih memiliki jiwa nasionalisme dan mempertahankan keutuhan bangsa. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sapaan Dari Kampus Kebanggan Kalimantan

COVID-19 Terhadap Bisnis