Masa-Masa Keemasan Islam
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bulan lalu, kita sudah mengkaji mengenai hal yang paling ditakuti seluruh umat manusia dan mengingatkan kita kepada hari akhir, yang kita kutip dari beberapa sumber terpercaya, Berbeda pada postingan kali ini Insyaallah pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi pengalaman saya mengenai satu hal yang sangat membanggakan dalam sejarah islam. Tak lain kita akan berbicara mengenai kekhalifahan sejak khalifah abu bakar.
Artiket ini dibuat dengan harapan bisa menjadi landasan dan membangkitkan kembali semangat juang islam yang saat ini sudah mulai padam. Sebagai generasi muda, sudah selayaknya kita mulai melanjutkan kembali masa masa islam yang membanggakan. Adapun permasalahan yang timbul pada pembuatan artikel kali ini adalah :
- Bagaimana memahami awal berdirinya kekhalifahan islam?.
- Bagaimana memahami masa-masa keemasan saat berdirinya kekhalifahan islam?.
- Bagaimana mengetahui masa dan penyebab berakhirnya kekhalifahan islam?.
- Bagaimana mengetahui nilai-nilai pada masa kekhalifahan islam?.
- Memahami awal berdirinya kekhalifahan islam
- Memahami masa-masa keemasan saat berdirinya kekhalifahan islam.
- Mengetahui masa-masa dan penyebab berakhirnya kekhalifahan islam.
- Mengetahui nilai-nilai pada masa kekhalifahan islam
1. Awal Berdirinya Kekhalifahan
- Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
Rasulullah telah berpulang ke sisi Tuhannya pada 12 Rabiulawal tahun
11 Hijri (3 Juni 632 M.). Subuh hari itu Rasulullah Sallallahn
'alaihi wasallam merasa sudah sembuh dari sakitnya. la keluar dari
rumah Aisyah ke mesjid dan ia sempat berbicara dengan kaum Muslimin.
Dipanggilnya Usamah bin Zaid dan diperintahkannya berangkat
untuk menghadapi Rumawi.
Setelah tersiar berita bahwa Rasulullah telah wafat tak lama setelah
duduk-duduk dan berbicara dengan mereka, mereka sangat terkejut
sekali. Umar bin Khattab yang berada di tengah-tengah mereka berdiri
dan berpidato, membantah berita itu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah
tidak meninggal, melainkan sedang pergi menghadap Tuhan seperti halnya
dengan Musa bin Imran, yang menghilang dari masyarakatnya selama
empat puluh malam, kemudian kembali lagi setelah tadinya dikatakan
meninggal. Umar terus mengancam orang-orang yang mengatakan bahwa
Rasulullah telah wafat. Dikatakannya bahwa Rasulullah Sallallahu
'alaihi wasallam akan kembali kepada mereka dan akan memotong
tangan dan kaki mereka ( ;28).
Lepas dari soal perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah
itu mengenai baiat serta ikut sertanya Keluarga Hasyim dan pihak
Muhajirin yang lain atau tidak ikut sertanya sebagian mereka, yang
sudah disepakati tanpa ada perbedaan pendapat ialah, bahwa sepeninggal
Rasululiah, sejak hari pertama yang harus memegang pimpinan
adalah Abu Bakr. Dari mereka yang tertunda memberikan baiat itu tak
ada yang mengatakan bahwa dari kalangan Banu Hasyim atau yang lain
mencoba mengadakan perlawanan senjata atau berusaha menggugatgugat
Khalifah yang pertama itu. Adakah itu karena kedudukan Abu
Bakr di mata Rasululiah, yang sampai mengatakan: 'Kalau ada dari
hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalll, maka Abu Bakr-lah
khalil-ku.' Atau karena dia diminta menemani Rasululiah dalam hijrah
serta jasa-jasanya yang begitu besar di samping kesiapannya selalu
membela Rasululiah dalam pelbagai kesempatan? Ataukah juga karena
Rasululiah memintanya mewakiliiya dalam salat selama dalam sakitnya
yang terakhir? ( ;54).
Apa pun alasan yang menyebabkan kaum Muslimin memberikan
ikrar kepada Abu Bakr sebagai Khalifah setelah Rasululiah berpulang,
yang jelas tak seorang pun ada yang menentangnya, juga tak ada yang
bergabung kepada mereka yang belum ikut membaiat. Ini merupakan
suatu bukti, bahwa pandangan Muslimin yang mula-mula itu tentang
kekhalifahan tidak sama dengan pandangan mereka yang datang kemudian,
yakni sejak masa kedaulatan dinasti Umayyah. Pandangan mereka
lebih dekat dengan nilai-nilai orang Arab asli di sekitar mereka, dan
yang memang sudah cukup dikenal di seluruh Semenanjung itu sejak
sebelum kerasulan Nabi 'alaihis-salam. Sesudah kawasan Islam bertambah
luas dan masyarakat Arab bergaul dengan bangsa-bangsa lain
yang mereka datangi, gambaran masyarakat Muslimin tentang konsep kekhalifahan itu juga ikut berubah, sesuai dengan pengaruh pergaulan
dan luasnya kawasan pemerintahan Islam ( ;55).
2. Umar bin khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M) Umar bin Khatab ketika dilantik sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar, menyampaikan pidato politik yang sangat bernas isi mencerminkan nawaitu atau niat yang amanah. “Pidato politik inilah yang kemudian mendunia dan tercatat dalam sejarah kepemimpinan dunia dan kerap dikutip berbagai ulasan ilmiah,” ujar Ustad Maswan MT, ulama di Banjarmasin sehubungan dengan akan segera dilaksanakannya pilkada serentak di Kalsel. Di hadapan jamaah Salat Subuh Masjid Al Jihad Banjarmasin, ulama ini menyadari bahwa tidak akan ada lagi pemimpin dunia yang menunjukkan kebijakannya sesuai dengan pidato politiknya. “Umar bin Khatab sangat konsisten dengan janji politiknya begitu dia menjadi khalifah hingga akhir hayatnya karena sejak awal dia sudah terbuka untuk ditegur dan diingatkan oleh rakyatnya bila melenceng dalam memimpin,” ujarnya. (banjarmasin.tribun.news)
3. Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)
Umar ra. menetapkan perkara pengangkatan khalifah di bawah Majelis Syura yang beranggotakan enam orang, mereka adalah: Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., Thalhah bin ‘Ubaidillah ra, Az-Zubair bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Dan Abdur Rahman bin ‘Auf ra. Umar ra. merasa berat untuk memilih salah seorang di antara mereka.697 Beliau berkata, ” Aku tidak sanggup untuk bertanggung jawab tentang perkara ini baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati. Jika Allah SWT. menghendaki kebaikan terhadap kalian maka Dia akan membuat kalian bersepakat untuk menunjuk seorang yang terbaik di antara kalian sebagaimana telah membuat kalian sepakat atas penunjukan orang yang terbaik setelah nabi kalian.
Di antara yang menunjukkan kesempurnaan kewaraan beliau, beliau tidak memasukkan dalam anggota majelis syura tersebut Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail karena ia adalah anak paman beliau. Beliau khawatir dia akan diangkat karena posisinya sebagai anak paman beliau dan dia adalah salah seorang yang diberitakan masuk surga, bahkan pada riwayat al-Madainy dari para Syaikhnya bahwa ia (Sa’id bin
Zaid) mendapat pengecualian di antara mereka, Umar ra. katakan, “Kamu tidak termasuk anggota majelis syura.” Umar ra. berkata kepada anggota majelis syura, “Apakah Abdullah (anak beliau) ikut hadir? Dia tidak termasuk dalam keanggotaan majelis ini.” Bahkan beliau memberikan pendapat dan nasehat kepada anggota tersebut agar dia (Abdullah) jangan diberi jabatan tersebut.
Beliau juga mewasiatkan agar Shuhaib bin Sinan ar-Rumy mengimami shalat selama tiga hari sampai musyawarah itu tuntas dan majelis syura mempunyai kesepakatan atas urusan tersebut. Mereka bermusyawarah di rumah membicarakan tentang urusan ini hingga akhirnya hanya terpilih tiga kandidat saja. Zubair ra. menyerahkan jabatan khalifah tersebut kepada Ali ra. bin Abi Thalib ra., Sa’ad ra. kepada Abdur Rahman bin ‘Auf ra. dan Thalhah ra. kepada Utsman bin Affan ra. Abdur Rahman bin ‘Auf ra. berkata kepada Ali ra. dan Utsman ra., “Sesungguhnya aku melepaskan hakku untuk salah seorang di antara kalian berdua yang berlepas diri dari
perkara ini, Allah SWT. sebagai pengawasnya. Sungguh akan diangkat sebagai khalifah salah seorang yang terbaik di antara dua orang yang tersisa.” Ucapan ini membuat Utsman ra.dan Ali ra. terdiam.
Kemudian Abdur Rahman ra. melanjutkan, “Aku akan berusaha untuk menyerahkan jabatan tersebut kepada salah seorang di antara kalian berdua dengan cara yang benar.” Mereka berdua berkata, “Ya.” Kemudian masing-masing mereka memberikan khutbahnya yang menyebutkan tentang keistimewaannya dan berjanji jika
mendapat jabatan tersebut tidak akan menyimpang dan jika ternyata tidak maka ia akan
mendengar dan mentaati orang yang diangkat. Mereka berdua menjawab, “Ya.” Lantas
mereka pun bubar.698 Abdur Rahman ra. berusaha selama tiga hari tiga malam tidak tidur dan hanya melakukan shalat, doa dan istikharah serta bertanya-tanya kepada mereka yang mempunyai pendapat tentang dua kandidat ini dan tidak dijumpai seorang pun yang tidak condong kepada Utsman ra..
Ketika tiba pagi hari yang keempat setelah wafatnya Umar. bin Khaththab ra, Abdur Rahman mendatangi rumah kemenakannya al-Miswar bin Makhramah dan berkata, “Apakah engkau tidur ya Miswar? Demi Allah SWT. aku sangat sedikit tidur sejak tiga hari yang lalu. Pergilah untuk memanggil Ali ra. dan Utsman ra.!” al- Miswar berkata, “Siapa yang pertama harus kupanggil?” beliau berkata, “Terserah padamu.” Maka aku pun pergi menemui Ali ra. dan kukatakan, “Pamanku tadi memanggilmu.” Ali ra. bertanya, “Apakah ia juga memanggil yang lain selainku?” Jawabku, “Benar.” Ali ra.
bertanya, “Siapa?” Jawabku, “Utsman bin Affan ra..” Ali ra. bertanya lagi, “Siapa yang ia
panggil pertama kali. di antara kami?” Jawabku, “Beliau tidak menyuruhku seperti itu, tetapi ia katakan terserah padamu siapa yang terlebih dahulu engkau panggil dan akhirnya aku mendatangimu.” Maka Ali ra. pun pergi keluar bersamaku.
Tatkala kami melintasi rumah Utsman bin Affan ra., Ali ra. duduk dan aku masuk ke dalam rumah, aku dapati beliau sedang melaksanakan shalat witir ketika menjelang fajar. Lantas ia bertanya sebagaimana yang ditanyakan Ali ra. kepadaku, lantas ia pun keluar. Kemudian kami menghadap kepada pamanku yang sedang melaksanakan shalat. Ketika selesai mengerjakan shalat, beliau mendatangi Ali ra. dan Utsman ra.seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah bertanya kepada masyarakat tentang kalian berdua dan tidak seorang pun dari mereka yang lebih mengistimewakan antara kalian berdua. Kemudian beliau mengambil perjanjian dari mereka berdua jika menempati jabatan tersebut harus bersikap adil dan jika tidak maka ia harus mendengar dan mentaati.
Lantas Abdur Rahman membawa mereka ke masjid. Waktu itu Abdur Rahman memakai serban yang dipakaikan Rasulullah saw. sambil membawa pedang. Beliau mengutus ketengah-tengah masyarakat Muhajirin dan Anshar lalu diserukan untuk shalat berjama-ah. Maka masjid menjadi penuh dan orang-orang saling berdesakkan sehingga tidak ada tempat bagi Utsman ra.untuk duduk kecuali di tempat paling belakang -beliau adalah seorang pemalu-. Kemudian Abdur Rahman bin Auf ra naik ke atas mimbar Rasulullah saw. dan berdiri sangat lama sambil berdoa dengan doa yang sangat panjang dan tidak terdengar oleh orang banyak lalu berkata, “Wahai sekalian manusia! Aku telah menanyakan keinginan kalian baik secara pribadi maupun di depan umum, namun aku tidak dapati seorang pun yang condong kepada salah seorang dari mereka berdua baik Ali ra. maupun Utsman ra. Wahai Ali ra. kemarilah!” Maka bangkitlah Ali ra. dan berdiri di bawah mimbar kemudian Abdur Rahman memegang tangannya seraya berkata, “Apakah engkau mau di bai’at untuk tetap setia menjalankan al-Qur’an, Sunnah NabiNya dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar ra. dan Umar ra.?” Ali ra. Menjawab, “Tidak, akan tetapi akan aku jalankan sesuai dengan kemampuanku.” Lalu Abdur Rahman melepaskan pegangannya699 dan me-manggil Utsman, “Wahai Utsman ra. kemarilah!” Maka Utsman pun bangkit dan tangannya dipegang oleh Abdur Rahman lalu bertanya, ” Apakah engkau mau dibai’at untuk tetap setia menjalankan al-Qur’an, Sunnah NabiNya dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar ra. dan Umar ra.?” Utsman ra.menjawab, “Ya!” Lantas Abdur Rahman menengadahkan kepalanya ke atap masjid sambil memegang tangan Utsman ra. dan berkata,” Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah sesungguhnya aku telah
Alihkan beban yang ada di pundakku ke pundak Utsman bin Affan ra..” Maka orang-orang pun berdesak-desakan untuk membai’at sehingga beliau dikerumuni oleh orang-orang di bawah mimbar. Abdur Rahman duduk di tempat yang biasa diduduki oleh Rasulullah saw. dan mendudukkan Utsman ra. di bawahnya yakni di tangga mimbar yang ke-dua. Berdatanganlah orang-orang kepada Utsman ra. untuk membai’atnya dan Ali ra. Adalah orang pertama yang membai’atnya. Dan disebutkan pula bahwa ia adalah orang yang terakhir membai’at Utsman.700
Adapun yang disebutkan oleh para ahli sejarah, seperti Ibnu Jarir701 dan Iain-lain dari riwayat orang-orang yang tidak diketahui bahwa Ali ra. berkata kepada Abdur Rahman, “Engkau telah menipuku, engkau mengangkatnya karena ia familimu dan karena ia sering meminta pendapatmu tentang setiap permasalahannya.” Kemudian Ali ra. enggan untuk membai’atnya hingga Abdur Rahman menyebutkan ayat: “Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al-Fath:10).
Dan berita lainnya yang bertentangan dengan berita-berita yang shahih, maka berita tersebut tertolak. Adapun sangkaan bahwa para sahabat pada waktu itu berselisih pendapat tentang pengangkatan tersebut adalah sangkaan yang bersumber dari orang-orang Rafidhah, para pendongeng bodoh yang tidak dapat membedakan antara berita shahih dan dha’if, yang lurus dan yang bengkok.
4. Ali bin Abi Thalib
Ketika Khalifah Ustman bin Affan terbunuh, maka orang-orang berlari kecil untuk mendatangi Ali sambil berkata, “Kita harus mengangkat Amir. Ulurkan tanganmu, kami baiat. Ali menjawab, “Urusan ini bukan hak kalian, tetapi hak para pejuang Badar. Siapa yang disetujui oleh para pejuang Badar, maka dialah yang berhak menjadi khalifah.” Kemudian seluruh para pejuang Badar mendatangi Ali dan membai'atnya. Peristiwa pembai'atan Ali sebagai khalifah terjadi pada tahun ke 33 H. Masa kepemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib merupakan masa yang sangat sulit. Dimana berbagai fitnah telah menyebar ke berbagai wilayah, berbagai peperangan dan pemberontakan terjadi. Pemberontakan yang terjadi di zaman Khalifah Ali bin Abu Thalib seperti, perang unta kemudian perang Shiffin. Berbagai pertentangan yang timbul antara jumhur Muslimin dan Mu’awiyah, lalu fitnah kaum khawarij yang berakhir dengan kejahatan mereka yang terburuk yaitu melakukan pembunuhan terhadap Khalifah Ali.(Arrohim.com)
Para ahli sejarah sepakat bahwa Khalifah Ali membenci kaum pemberontak yang membunuh Utsman. Bahkan Khalifah Ali bin Abu Thalib sangat berharap dapat melakukan secepat mungkin untuk dilakukannya qishash terhadap para pembunuh Utsman. Akan tetapi, Khalifah Ali mempunyai pertimbangan lain yaitu sampai segala urusan beres atau sampai khalifah dapat mewujudkan apa yang dinilainya sebagai pendahuluan dharuri dan menjauhkan sebab-sebab timbulnya fitnah. (Al - Bidayah wan-Nihayah, 7/234).(Arrohim.com)
Akan tetapi, sahabat-sahabat lainnya mempunyai pandangan lain. yang lainnya berpendapat agar khalifah segera menangkap dan megeksekusi mereka. Para sahabat yang berbeda tersebut seperti Thalhah dan Zubair.(Arrohim.com)
Akhirnya para sahabat yang menuntut untuk segera dilakukannya qishash berkumpul di Bashrah, mereka adalah Ummul Mu’minin Aisyah, Thalhah, Zubair dan para pembesar sahabat lainnya. Tujuan para sahabat ini berkumpul tak lain adalah untuk mengingatkan masyarakat Bashrah agar menjalin kerjasama dalam menangkap pembunuh Utsman. Mengetahui para sahabat kumpul di Basrah, Khalifah langsung menuju ke sana bersama pasukannya guna mencapai ishlah dan menyatukan pendapat. Diantara kedua kubu tidak ada yang berniat untuk berperang atau menyulut api fitnah. Semuanya berjalan atas ijtihaj masing-masing.(Arrohim.com)
Akhirnya Khalifah Ali mengirimkan utusannya yaitu Al-Qa’qa bin Amr untuk menemui Ummul Mu’minin Aisyah. Utusan tersebut berkata, “Wahai Ibunda, ada maksud apa Ibunda sehingga jauh-jauh datang ke negeri ini?”, Ummul Mu’minin menjawab, “Ishlah diantara manusia.” Kemudian utusan tersebut menemui Thalhah dan Zubair untuk menanyakan hal yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama. Akhirnya semuanya sepakat untuk menyerahkan urusannya pada Khalifah dan mendesak supaya ditegakkannya hukum Allah terhadap para pembunuh Utsman.(Arrohim.com)
Setelah semua sepakat, Khalifah pun berpidato dihadapan khalayak dengan terlebih dahulu memanjatjan puji kepada Allah swt atas nikmat perdamaian dan kesepakatan yang telah dicapai. Khalifah pun mengumumkan bahwa besok ia akan kembali pulang.(Arrohim.com)
Syekh Said Ramadhan Al Buthy dalam kitabnya Fiqhus Sirah menjelaskan, bahwa tak lama setelah kesepakatan tersebut dicapai, para gembong pembuat fitnah mengadakan peretemuan. Mereka tidak senang dengan kesepakatan yang dicapai oleh Khalifah. Mereka para pembuat fitnah tersebut adalah Asytar an-Nakha’i, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba, Salim bin Tsa’labah, dan Ghulam ibnul Haitsam. Tak ada dari golongan sahabat yang masuk dalam golong mereka seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir. Para pembuat fitnah ini berkonspirasi untuk mengobarkan peperangan ditengah masyarakat.(Arrohim.com)
Di hari kedua Khalifah berangkat yang kemudian di susul oleh Thalhah dan Zubair. Sedangkan orang-orang pembuat fitnah ini bergerak sebelum fajar. Mereka membawa pasukan yang berjumah sekitar dua ribu orang. Dengan licik mereka mendatangi kerabat mereka lalu menyerbu dengan menggunakan pedang mereka. Akhirnya, orang-orang bangun dari tidur mereka dengan membawa pedang sambil berkata, “Orang-orang Kufah menyerang kita pada malam hari dan berkhianat pada kita.” Mereka mengira bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalifah. Seteah mendengar berita ini Khalifah berkata, “Apa yang terjadi pada masyarakat?” oarang-orang yang berada disekitar Khalifah berteriak bahwa penduduk Bashrah menyerang mereka. Spontan saja kedua belah pihak langsung memakai baju perang mereka sambil membawa senjata lengkap.(Arrohim.com)
Kedua kelompok ini telah di fitnah dan diadu domba untuk maju dalam medan pertempuran tanpa mengetahui hakikat sebenarnya yang terjadi. Akhirnya kedua pasukan bertemu, Khalifah membawa sekita 20.000pasukan sedangkan Ummul Mu’minin Aisyah membawa 30.000 pasukan. Ketika kedua pasukan bertemu, sahabat bertemu dengan sahabat, orang beriman bertemu dengan orang beriman, tapi dalam pertempuran kali ini mereka seakan-akan dipaksa untuk jadi musuh. Akhirnya ketika mereka bertemu, mereka saling menghindar, saling menahan diri dan tak ingin membunuh sahabatnya tersebut.(Arrohim.com)
Imam Baihaqi meriwayatkan, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad ibnul Hasan al-Qadhi, ia meriwayatkan dengan sanadnya dari Harb ibnul Aswad Da’uli.. Ia berkata, “Ketika Khalifah beserta para sahabatnya mendekati Thalhah dan Zubair, dan barisan keduanya pun saling mendekat, keluarlah Khalifah sambil menunggang baghal Rasulullah kemudian berseru, “Panggilkan saya Zubair.” Setelah Zubair dipanggil, ia datang sampai tengkuk kedua tunggangannya bersentuhan. Khalifah berkata, “Wahai Zubair, demi Allah apakah engkau ingat ketika Rasulullah melewatimu, sedangkan kami berada di tempat ini dan itu ? beliau kemudian bertanya, “Wahai Zubair, apakah kamu mencintai Ali ? “lalu kamu menjawab, “Mengapa aku tidak mencintai anak bibiku dan anak pamanku, bahkan segama denganku ? “Nabi saw kemudian bersabda, Wahai Zubair, demi Allah suatu saat nanti engkau pasti akan memeranginya dan mendzaliminya.”(Arrohim.com)
Zubair menjawab, Demi Allah, aku telah lupa akan peristiwa tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah. Akan tetapi, sekarang aku baru teringat lagi. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu untuk selama-lamanya. Zubair kemudian kembali dengan menunggang kuda membelah pasukannya.(Arrohim.com)
Ketika unta Ummul Mu’minin Aisyah jatuh ke tanah kemudian sekejap dibawa jauh dari medan pertempuran, Khalifah datang kepadanya seraya mengucapkan salam dan menanyakan keadaannya sambil berkata, wahai Ibunda, bagaimana keadaanmu ?” Ummul Mu’minin menjawab, Baik.” Ali berkata, “Semoga Allah mengampunimu. “Selanjutnya orang-orang dan para sahabat datang seraya mengucapkan salam kepadanya dan menanyakan keselamatannya.(Arrohim.com)
2. Masa-masa Keemasan pada Kekhalifahan
Perjalanan dinasti Bani Umayyah akhirnya berakhir setelah Marwan Bin Muhammad–khalifah terakhir Bani Umayyah–dibunuh.lalu digantikan oleh dinasti Abbasiah dengan Abdullah al-Saffah (750-754 M) sebagai khalifah pertama. Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh dinasti ini yang berbeda dengan sebelumnya. Di antaranya: 1). Para Khalifah masih dari keturunan Arab, sedangkan para menteri, panglima, gubernur, dan pegawai lainnya dipilih dari keturunan persia dan mawali. 2). Menjadikan kota Baghdad sebagai pusat kegiatan politik, ekonomi, dan kebudayaan. 3). Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting. 4). Kebebasan berpikir termasuk bagian dari HAM yang dijaga. 5). Para menteri keturunan persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalan tugasnya.
Sistem politik yang diterapkan ini membawa dampak yang sangat baik bagi perkembangan Islam. Pada periode ini pemerintahanIslam makin kokoh. Hal ini didukung oleh Khalifah-khalifah yang memang memiliki pengaruh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Maka lalu tak heran kemakmuran rakyat sangat tampak pada periode ini. Dan periode inilah yang berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Walaupun Dinasti Abbasiah ini diawali oleh pemerintahan Abdullah Al-Saffah, tapi dasar-dasar pemerintahannya oleh al-Manshur(754-775), sang khalifah kedua. Dari masa al-Manshur ini, perkembangan Islam makin pesat dari berbagai sektor, termasuk sektor ekonomi. Kejayaan ini sampai pada puncaknya di masa Harun Al-Rasyid (786-809M), khalifah kelima. Pada masa ini kekayaan negara betul-betul digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Maka tak heran ketika lalu banyak didirikan rumah sakit dan lembaga pendidikan. Pada masa inilah negara Islam tampil sebagai negara terkuat di kolong jagad raya. Masa kejayaan Harun al-Rasyid ini dilanjutkan oleh penerusnya, yakni Khalifah al-Ma’mun yang tak lain adalah anaknya sendiri.
Di masa kedua khalifah memang dimaklumi masa keemasan itu terjadi. Setidaknya hal ini disebabkan oleh dua faktor: 1). Adanya hubungan yang sangat baik antara orang arab dengan orang-orang dari bangsa yang telah maju dalam bidang ilmu pengatahuannya, semisal persia. 2). Adanya gerakan pertejemahan yang lalu mempermudah orang Islam untuk mendapatkan ilmu. Maka tak heran ketika hal ini menjadikan Baghdad–yang tak lali sebagai pusat pemerintahan Islam–menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Di samping itu, perlu disadari bahwa sang Khalifah Harun al-Rasyid memang memiliki sifat dan perangai yang layak ditiru. Dia cangat mencintai ilmu pengetahuan dan termasuk ahli ibadah. Dalam sehari, beliau shalat kurang lebih sebanyak 100 rakaat. Beliau kalau berhaji pasti berjalan kaki, hal ini tidak pernah dilakukan oleh khalifah yang lain. Ini menunjukkan bahwa beliau menjalani hidup sederhana. Selain itu, kedermawanan beliau sudah diakui. Masih banyak lagi sifat dan perangai dari Harun al-Rasyid yang lalu menjadi maklum ketika beliau sukses dalam mengantarkan Islam ke puncak kejayaanya. Khalifah yang lain juga demikian, mereka memiliki sikap yang lalu secara perlahan mengantarkan negara Islam pada masa keemasan.
3. Berakhirnya Kekhalifahan
- Abu Bakar As-Sidiq
Pada suatu hari saat ABu Bakar Ash-Shiddiq masih terbaring lemah karena sakit, Aisyah datang menemui bapaknya dan menangis. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun melarangnya. Aisyah kemudian duduk di dekat bapaknya seraya membacakan beberapa syair tentang duka cita. Abu Bakar lalu berkata. "Wahai Aisyah bacalah firman Allah berikut :
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. (QS Qaaf 50:19-20).
Tatkala sakit Abu Bakar Ash-Shiddiq semakin parah, dia mulai bermusyawarah dengan para sahabat tentang penggantinya, yakni Umar bin Khattab. Abu Bakar bertanya kepada Abdurrahman bin Auf dan dijawab, "Dia lebih baik dari apa yang engkau perkirakan wahai Khalifah Rasulullah." Abu Bakar kemudian bertanya kepada Utsman bin Affan dan dia menjawab, "Menurut pengetahuanku, apa yang tersembunyi darinya lebih baik dari apa yang tampak darinya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian memanggil Utsman bin Affan dan berkata kepadanya, "Tulislah wahai Utsman, ini perintah Abu Bakar bin Abu Quhafah pada akhir hayatnya, menjelang keluar ruh darinya dan pada permulaan masanya menuju akhirat. Sekiranya orang yang berdusta berkata jujur, orang yang fajir yakin dan orang yang kafir beriman, sungguh aku telah mencari pengganti bagi kalian." Sesudah itu ia pingsang sebelum menyebutkan nama.
Lalu Utsman bin Affan menuliskan: "Telah kucarikan pengganti atas kalian, yaitu Umar bin Khattab." Hal itu lantaran dia khawatir bilamana Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq meninggal sebelum menentukan nama sehingga kaum muslimin berselisih mengenai siapakah pengganti sesudahnya. Utsman melakukan hal ini karena dia mengetahui bahwa Abu Bakar telah meminta pendapatnya mengenai penggantinya, yaitu Umar bin Khattab.
Tatkala Abu Bakar As-Siddiq telah siuman, dia lantas berkata kepada Utsman bin Affan, "Bacakanlah apa yang telah kau tuliskan." Utsman kemudian membacanya, "Telah kuangkat Umar bin Khattab menjadi penggantiku bagi kalian." Mendengar hal itu, As-Shiddiq berkata, "Allahu Akbar!, Aku melihat engkau khawatir jika aku meninggal sehingga umat bisa berelisih dan diantara mereka terjadi fitnah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Islam dan Kaum Muslimin, wahai Utsman."
Setelah itu Abu Bakar Ash-Shiddiq mengumpulkan kaum muslimin dan berkata, "Wahai sekalian kaum Muslimin! Sesungguhnya aku hendak menuju negeri akhirat dan keluar dari dunia ini. Sesungguhnya, aku telah memilih untuk kalian sebagaimana yang tertulis di dalam lembaran ini. Maka dengarkan dan taatilah. Apakah kalian akan menerima seseorang yang telah kumusyawarahkan dengan para sahabat dan kupilihkan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Kami ridha!" Ali bin Abu Thalib kemudian berdiri seraya berkata, "Kami tidak ridha kecuali yang akan menjadi penggantinya adalah Umar bin Khattab." Abu Bakar Ash-Shiddiq pun lantas tersenyum dan berkata, "Dia adalah Umar bin Khattab. Maka dengarkanlah dan taatilah dia. Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatu pun tentangnya kecuali kebaikan."
Hari terus berlalu, dalam keadaan sakit Abu Bakar Ash-Shidiq bertanya kepada Umat Muslimin yang datang menjenguknya, "Hari apa ini?" "Senin" jawab mereka. Dia bertanya lagi. "Lalu hari apakah Nabi SAW wafat?" Mereka kembali menjawab, "Senin". Kemudian Ash-Shiddiq berkata, "Ya allah matikanlah aku pada malam ini." Dia bertanya kembali kepada mereka, "Berapakah kain kafan yang dikenakan pada Rasulullah SAW?" Mereka menjawab, "Tiga." Kemudian dia menyuruh orang-orang untuk menyiapkan tiga kain kafan baginya, dan agar kelak dia dimandikan oleh isterinya, Asma' binti Umais.
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum dia wafat adalah, "Matikanlah aku dalam keadaan muslim dan susulkanlah aku bersama orang-orang yang shalih." Ash-Shiddiq meninggal pada waktu malam. Umar bin Khattab kemudian menshalatinya dan seluruh Madinah pun menangis. Dia dikuburkan berdampingan dengan makan Rasulullah SAW.
Suatu ketika Ali bin Abu Thalib pernah berhenti di makam beliau dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Bakar. Demi Allah, engkau adalah orang pertama yang masuk Islam, yang paling tulus keimanannya, yang paling kokoh pendiriannya, yang paling besar kekayaannya, yang paling menjaga Rasulullah SAW, yang paling bersemangat menegakkan Islam, yang paling penyayang terhadap Kaum Muslimin, dan orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam hal fisik, perilaku, sifat dan ketika memberi petunjuk. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Islam dan dari Rasulullah. Engkaulah yang membenarkan Rasulullah saat orang-orang mendustakannya. Engkaulah yang menolongnya saat orang-orang menentang. Engkaulah yang selalu menyertainya saat orang-orang meninggalkannya. Allah menyematkan nama kepadamu di dalam kitab-Nya dengan 'Shiddiq' :
Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zumar 39:33).
Engkaulah orang yang membenarkannya. Demi Allah, engkau adalah benteng bagi Islam, kekokohan dan azab bagi orang-orang kafir. Engkau seperti gunung yang tak tergoyahkan oleh badai dan tak terhempaskan oleh perpecahan. Engkau sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW :
'Bertubuh lemah, tapi kuat dalam menjalankan perintah Allah.'
Tawadhu terhadap dirimu dan agung di sisi Allah, mulia di bumi dan terhormat di kalangan Muslimin. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan. Tidak ada seorang pun di sisinya yang berambisi dan tidak ada seorang pun disisinya yang diremehkan. Orang yang kuat di sisimu adalah lemah dan orang yang lemah di sisimu adalah kuat sehingga engkau mengambilkan hak baginya. Semoga Allah tidak menghalangi kami dari pahalamu dan tidak menyesatkan kami sesudahmu."
Sumber : Jejak Para Khalifah. Oleh : Amru Khalid. Hal. 62-66
2. Umar Bin Khatab
Subuh itu Umar bin Khattab, seperti biasa menjadi imam shalat subuh di Masjid Nabawi. Setelah takbiratul ihram, tiba-tiba muncul seorang laki-laki, langsung menikam dada dan perutnya enam kali bertubi-tubi. Tubuh Umar roboh. Lalu para jamaah memapahnya ke rumahnya di sebelah masjid.
Dalam detik-detik kematiannya, yang terpikir oleh Umar adalah bagaimana supaya sepeninggal dirinya, kekhalifahan lebih baik lagi. Dia melihat ambisi sahabat-sahabatnya begitu besar, sehingga tidak mungkin menunjuk salah satu diantara mereka, seperti apa yang dilakukan Abu Bakar As-Sidiq kepada dirinya.
Situasinya jelas berbeda dengan masa dia diangkat oleh Abu Bakar As-Sidiq. Pada akhir kepemimpinan Umar, semua kelompok merasa berjasa menegakkan panji Islam, hingga merasa layak (berhak) menjadi khalifah menggantikan Umar bin Khattab.
Umar terbayang dua tokoh, Abu Huzaifah dan Abu Ubaidah, “seandainya salah satu diantara mereka masih hidup akan saya serahkan kepadanya.”
Tabib yang memeriksa Umar rupanya sampai pada diagnose akhir, lalu berkata, “berwasiatlah, ya Amirulmukminin!” Umar tidak tenang. Bukan karena kematiannya, tetapi karena dia belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikannya. Lalu, orang-orang berkata, “kenapa tidak Abdullah bin Umar saja yang menggantikan urusan anda.” Umar marah, “sekali-sekali tidak akan saya serahkan urusan ini kepada orang yang tidak mampu menceraikan istrinya”.
Akhirnya Umar menunjuk enam orang untuk memilih satu diantara mereka, yaitu Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdur-Rahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Waqqas. Alasannya, Umar pernah mendengar Rasul berkata bahwa mereka adalah penghuni surga. Umar menyuruh Abdullah bin Umar bergabung untuk mengawasi, tidak boleh dipilih karena dia anak dari Umar bin Khattab.
Dari kisah di atas, paling tidak ada 3 (tiga) pelajaran (ibrah) yang bisa kita petik sebagai kriteria memilih pemimpin. Pertama, integritas agama. Jaminan masuk surga oleh Rasul, bagi Umar cukup sebagai dasar kualitas agama mereka.
Kedua, Umar tidak mengangkat anaknya sebagai penggantinya, meskipun umat menganjurkannya. Inilah satu diantara keteladanan kepemimpinan Umar bin Khattab, dia enggan melibatkan keluarga untuk urusan “negara,” bukan hanya urusan kekayaan “negara,” namun juga jabatan, lebih-lebih jabatan nomor satu.
Ketiga, Umar tidak mengangkat orang yang tidak mampu menceraikan istrinya. Tentu saja kepada istri yang sudah melakukan kesalahan fatal. Artinya, Umar tidak mengharapkan pemimpin yang menggantikannya nanti orang yang tidak tegas. Umar ingin pemimpin berikutnya tegas seperti dia. Seperti langkahnya yang tidak segan-segan memecat pejabat-pejabat yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya.
Sumber : www.republika.co.id
3. Usman bin Affan
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengetahui akan terjadinya fitnah di masa pemerintahan kholifah ‘Utsman RA – dengan kabar dari Allah SWT kepada beliau – dan karena kecintaan beliau kepada Utsman Radhiyallahu ‘anhu serta antusias beliau untuk memberikan kemaslahatan bagi umat ini setelah beliau, beliaupun mendo’akan Utsman dan mengabarkan kepadanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan fitnah ini yang berakhir dengan terbunuhnya beliau. Dan Nabi SAW bersemangat untuk merahasiakan kabar ini, hingga hal tersebut tidak sampai kepada kita melainkan apa yang telah dikatakan oleh Utsman Radhiyallahu ‘anhu ketika terjadi fitnah, ketika dikatakan kepadanya : Mengapa engkau tidak memerangi? Beliau mengatakan : Tidak, sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengambil sumpah dariku dan sesungguhnya aku bersabar atas hal ini.[12]
Pada mulanya pemerintahan khalifah usman bin affan berjalan lancar. Hanya saja seorang Gubernur Kufah, yang bernama Mughirah bin Syu’bah dipecat oleh Khalifah Utsman dan diganti oleh Sa’ad bin Abi Waqas, atas dasar wasiat khalifah Umar bin Khatab. Kemudian beliau memecat pula sebagian pejabat tinggi dan pembesar yang kurang baik, untuk mempermudah pengaturan, lowongan kursi para pejabat dan pembesar itu diisi dan diganti dengan famili-famili beliau yang kredibel (mempunyai kemampuan) dalam bidang tersebut. Adapun pejabat – pejabat yang di angkat kholifah ‘utsman antara lain :
- Abdullah bin Sa’ad ( saudara susuan kholifah ‘Utsman RA) sebagai wali Mesir menggantikan Amru bin ‘Ash .
- Abdullah bin Amir bin Khuraiz sebagai wali Bashroh menggantikan Abu Musa al – Asy’ari.
- Walid bin ‘Uqbah bin Muis ( saudara susuan kholifah ‘Utsman RA ) sebagai wali Kufah menggantikan Sa’ad bin Abi Waqos.
- Marwan bin Hakam ( keluarga kholifah ‘utsman ) sebagai sekretaris kholifah ‘Utsman.
Tindakan khalifah usman bin affan yang terkesan nepotisme ini merupakan salah satu kekurangan kekhalifahan pada masa Utsman Bin Affan RA dan mengundang protes dari orang-orang yang dipecat, walaupun tuduhan tersebut tidaklah beralasan karena pribadi kholifah ‘Utsman RA bersih. Pengangkatan kerabat oleh kholifah ‘Utsman bukan tanpa pertimbangan. Hal ini di tunjukkan oleh jasa yang di buat oleh Abdullah bin Sa’ad dalam melawan Romawi di Afrika Utara dan juga keberhasilannya dalam mendirikan angkatan laut. maka datanglah gerombolan yang dipimpim oleh Abdulah bin Saba’ yang menuntut agar pejabat-pejabat dan para pembesar yang diangkat oleh Khalifah Utsman ini dipecat pula. Usulan-usulan Abdullah bin Saba’ ini ditolak oleh khalifah Utsman. Posisi-posisi penting diserahkan Kholifah Utsman pada keluarganya Bani Umayyah. Yang paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara. Banyak yang curiga, Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman.
Di masa itu, posisi Muawiyah anak Abu Sofyan mulai menjulang menyingkirkan nama besar seperti Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan dan diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah keluarga yang paling aktif berkampanye untuk kholifah Ustman dulu. Kholifah Usman minta bantuan Amr kembali begitu Abdullah menghadapi kesulitan. Kholifah Ustman mengangkat saudaranya seibu, Walid bin Ukbah menggantikan tokoh besar Saad bin Abi Waqas. Namun Walid tak mampu menjalankan pemerintahan secara baik. Ketidakpuasan menjalar ke seluruh masyarakat.
Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan-lah aliran Syiah lahir dan Abdullah Bin Sab’ disebut sebagai pencetus aliran Syi‟ah tersebut. Karena merasa sakit hati, Abdullah bin Saba’ kemudian membuat propoganda yang hebat dalam bentuk semboyan anti Bani Umayah, termasuk Utsman bin Affan. Seterusnya penduduk setempat banyak yang termakan hasutan Abdullah bin Saba’. Sebagai akibatnya, datanglah sejumlah besar (ribuan) penduduk daerah ke madinah yang menuntut kepada Khalifah Utsman, tuntutan dari banyak daerah ini tidak dikabulkan oleh khalifah, kecuali tuntutan dari Mesir, yaitu agar Utsman memecat Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah, dan menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakar Karena tuntutan orang mesir itu telah dikabulkan oleh khalifah, maka mereka kembali ke mesir, tetapi sebelum mereka kembali ke mesir, mereka bertemu dengan seseorang yang ternyata diketahui membawa surat yang mengatasnamakan Utsman bin Affan.
Isinya adalah perintah agar Gubernur Mesir yang lama yaitu Abdulah bin Abi sarah membunuh Gubernur Muhammad Abi Bakar (Gubernur baru) Karena itu, mereka kembali lagi ke madinah untuk meminta tekad akan membunuh Khalifah karena merasa dipermainkan. Setelah surat diperiksa, terungkap bahwa yang membuat surat itu adalah Marwan bin Hakam. Tetapi mereka melakukan pengepungan terhadap khalifah dan menuntut dua hal :
1. Supaya Marwan bin Hakam di qishas (hukuman bunuh karena membunuh orang).
2. Supaya Khalifah Utsman meletakan jabatan sebagai Khalifah.
khalifah usman bin affan tidak mengabulkan permohonannya dengan alasan karena Marwan baru berencana membunuh dan belum benar-benar membunuh. Sedangkan tuntutan kedua, beliau berpegang pada pesan Rasullulah SAW; “Bahwasanya engkau Utsman akan mengenakan baju kebesaran. Apabila engkau telah mengenakan baju itu, janganlah engkau lepaskan”. Setelah mengetahui bahwa khalifah Utsman tidak mau mengabulkan tuntutan mereka, maka mereka melanjutkan pengepungan atas beliau sampai empat puluh hari. Ketika Utsman Radhiyallahu ‘anhu melihat bahwa ajakan untuk berdamai dengan mereka tidak berhasil, bahkan pengepungan mereka terhadapnya semakin menjadi-jadi, beliaupun bermusyawarah dengan Abdullah bin Salam.
Abdullah bin Salam pun memberikan isyarat agar beliau menahan diri dari memerangi mereka, agar hal tersebut semakin bisa menjadi hujjah bagi beliau di sisi Allah kelak. Abdullah bin Salam berkata kepada beliau : “Tahan dan tahanlah, karena hal itu akan menjadi hujjah bagimu[13]“. Situasi dari hari kehari semakin memburuk. Rumah beliau dijaga ketat oleh sahabat-sahabat beliau, Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam, Muhammad bin Thalhah, Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, beliau menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun. Hingga suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal rumah beliau, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca al-Qur‟an. Dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah al Ghafiki dan Sudan bin Hamran. Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun.
sumber : www.rangkumanmakalah.com
4. Ali bin Abi Thalib
Tidak lama setelah Perang Jamal berakhir, terjadilah Perang Shiffin. Perang Shiffin terjadi antara Ali Ibn abi Thalib dan Gubernur Suriah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Awalnya perang ini dipicu oleh kebencian Mu’awiyah terhadap Ali. Dengan beralaskan pada kasus pembunuhan Ustman yang tiada menemui akhir dan permasalahan batas sungai di daerah Shiffin, Mu’awiyah mengajukan perang kepada Ali. Ali yang sejak awal tidak menyukai peperangan, sebelumnya telah menawarkan untuk melakukan perundingan dan menghindari perang dengan jalan perdamaian kepada Mu’awiyah. Akan tetapi pihak Mu’awiyah tetap menolak dan memilih perang. Akhirnya setelah beberapa hari terjadi perang maka diadakanlah perundingan kembali. Perundingan ini merupakan ide licik dari kaum Mu’awiyah yang mulai kehilangan banyak pasukan. Dari perundingan tersebut terbentuklah kesepakatan untuk masing-masing pihak memilih seorang hakim. Namun kesepakatan tersebut akhirnya dilanggar oleh Mu’awiyah dengan segala kelicikannya. Pada akhirnya, banyak kaum pendukung Ali yang keluar dari barisan Ali dan mendukung Mu’awiyah. Hal ini menyebabkan kembali terjadinya perang. Tidak sedikit pasukan Ali yang terbunuh pada perang itu. Karena melemahnya kekuatan Ali, maka dengan terpaksa ia menyetujui perjanjian damai dengan Mu’awiyah dan secara politis Ali mengakui kepemimpinan Mu’awiyah atas Syiria dan Mesir. Ketika Ali tengah mempersiapkan pasukan untuk kembali memerangi Mu’awiyah, tiga orang dari kaum Khawarij bersepakat untuk membunuh Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin Ash dalam waktu yang sama. Dari rencana yang sudah mereka susun, yang berhasil terlaksana hanyalah pembunuhan Ali. Ali terbunuh saat memanggil orang-orang untuk shalat di masjid. Ali terbunuh pada usia 63 tahun (41H/(661M).
sumber : syarifatulumam.com
4. Nilai-nilai yang Dapat Dipetik
Adanya upaya pengadilan dan pemenuhan aspirasi rakyat yang beragama dapat dipadukan kepentingan yang beragam juga dapat diakomodasikan sehingga meskipun pada dasarnya manusia itu mempunyai karakter yang berbeda, akan tetapi atas nama negara mereka dapat dipersatukan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan dengan menghargai perbedaan yang ada.


Komentar
Posting Komentar